Smadijah: Murid SMA Khadijah Belajar Literasi Keuangan Digital Bersama Bank Indonesia
SMA Khadijah – Smadijah bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar seminar Literasi Keuangan Digital (15/6) bagi peserta didik sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap sistem keuangan, baik dalam bentuk uang fisik maupun transaksi digital yang semakin berkembang di era modern.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program edukasi Bank Indonesia yang telah dilaksanakan di berbagai sekolah dan perguruan tinggi. Melalui kunjungan langsung ke satuan pendidikan, Bank Indonesia berupaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran bank sentral serta perkembangan sistem keuangan nasional.

Dalam seminar tersebut, peserta mendapatkan materi dari dua narasumber Bank Indonesia, yaitu M. Burhan Adly yang membawakan materi tentang Perencanaan dan Distribusi Rupiah serta Fitriani Anggraini yang memaparkan Rencana Besar Sistem Keuangan di Masa Depan.
M. Burhan Adly menjelaskan bahwa Bank Indonesia memiliki peran penting sebagai bank sentral, termasuk dalam menjaga ketersediaan dan distribusi uang rupiah hingga dapat digunakan oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Menurutnya, literasi mengenai rupiah masih perlu ditingkatkan karena masih banyak masyarakat yang belum memahami cara memperlakukan uang dengan baik.
“Masyarakat masih kurang aware dalam merawat rupiah. Uang sering dimasukkan ke kantong, diremas, dicoret, atau bahkan distaples sehingga lebih cepat rusak,” ujarnya.
Sementara itu, Fitriani Anggraini menyoroti pentingnya pemahaman terhadap transformasi sistem keuangan digital yang saat ini terus berkembang. Ia menjelaskan bahwa penggunaan layanan digital seperti QRIS telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat dan perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan data pribadi.
Menurutnya, salah satu kesalahan yang masih sering dilakukan generasi muda adalah kurangnya kewaspadaan dalam menjaga identitas dan informasi pribadi saat beraktivitas di dunia digital.
“Masih banyak yang belum menyadari bahwa data pribadi merupakan hal yang sangat penting. Informasi tersebut tidak boleh diberikan kepada sembarang pihak karena dapat disalahgunakan,” jelasnya.
Kedua narasumber menegaskan bahwa literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan melakukan transaksi, tetapi juga memahami fungsi setiap instrumen keuangan serta risiko yang mungkin muncul dalam penggunaannya.
Dalam sesi wawancara, Fitriani Anggraini juga menjelaskan bahwa kondisi nilai tukar dolar dapat memengaruhi harga barang di Indonesia, terutama pada komoditas yang masih bergantung pada impor. Oleh karena itu, Bank Indonesia bersama pemerintah terus berupaya memperkuat ketahanan ekonomi nasional, termasuk melalui penguatan sektor pangan agar Indonesia tidak selalu bergantung pada produk impor.
Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai cara mengenali keaslian uang rupiah melalui metode 3D (Dilihat, Diraba, dan Diterawang). Siswa juga diingatkan untuk menerapkan prinsip 5J, yaitu Jangan dilipat, Jangan dicoret, Jangan diremas, Jangan dibasahi, dan Jangan distaples uang rupiah agar kualitasnya tetap terjaga.
Di akhir kegiatan, para narasumber mengajak peserta untuk menjadi generasi yang lebih bijak dalam mengelola keuangan serta lebih peduli terhadap keamanan transaksi digital. Pemahaman yang baik mengenai rupiah, sistem pembayaran digital, dan perlindungan data pribadi diharapkan dapat membantu generasi muda menghadapi tantangan ekonomi di masa depan dengan lebih siap dan bertanggung jawab.
Penulis: Anggardha Radhitya
